Home »
» ... CERITA SEDIH SEORANG OPA ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Suatu hari seorang sahabat saya pergi
ke rumah orang jompo atau lebih terkenal dengan sebutan panti werdha
bersama dengan teman-temannya. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih
banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi
pada orang-orang yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman
saya sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata teman
saya tertumpu pada seorang opa tua yang duduk menyendiri sambil menatap
kedepan dengan tatapan kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara.
Perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.
Si opa memulai cerita tentang hidupnya sambil menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha
yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat
saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa
tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat
bagus.
Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua
berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan iaya yang tidak pernah saya
batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam
usahanya dan juga dalam berkeluarga.
Tibalah dimana kami
sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen
kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari
sejak saya memulai kehidupan ini meninggal dunia karena sakit yang
sangat mendadak.
Lalu Sejak kematian istri saya tinggallah saya
hanya dengan para pembantu kami karena anak-anak kami semua tidak ada
yg mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga
besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani
saya setiap saat saya memerlukan nya.
Tidak sebulan sekali
anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon. Lalu
tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual
rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal
dengannya.
Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena
toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada
orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan
anak saya yang sulung.
Tapi apa yang saya dapatkan ? setiap
hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak
pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya pembantu
yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka
meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit2an.
Lalu saya
tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan
mendapatkan sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih
menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka
menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan
saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan
alat-alat mereka yang mahal-mahal itu.
Setiap hari saya makan
dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka
sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan
dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani
mereka?
Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil,
anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu
adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua.
Tapi apa yang saya dapatkan?
Setelah beberapa lama saya
tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu
mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo
dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka
berjanji akan selalu mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 tahun
saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk
mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah
semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala
kasih sayang dan kucuran keringat.
Saya bertanya-tanya mengapa
kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah
orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya
minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri
sendiri.
Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa
mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya
punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat - sahabat yang
mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya.
Sejak itu sahabat saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang opa.
Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang opa berganti dengan
keceriaan apalagi kalau sekali-sekali teman saya membawa serta
anak-anaknya untuk berkunjung.
Sampai hatikah kita membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita.
Bukankah suatu haripun kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian ?
Ingatlah bahwa tanpa Ayah dan Ibu, kita tidak akan ada di dunia dan menjadi seperti ini.
Jika kita masih mempunyai orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim-piatu yang merindukan kasih sayang orang tua ...
- See more at: http://www.seoterpadu.com/2013/07/cara-membuat-kotak-komentar-keren-di_8.html#sthash.Bjc59GD5.dpuf